Printing Diary

Archive for April 2011

Well, sore kemarin saya kedatangan seseorang yang sedikit bingung juga keliatannya. Dari raut wajahnya dan cara ngomongnya juga ragu. Jadi saya ajak ngobrol, dan akhirnya dia ngomong kalo dia butuh paper bag, tepatnya sih custom paper bag ya, soalnya dia pengen pake logo dan photo dari produk beserta toko yang dia miliki.

Singkatnya sih, dia nanya dulu tanpa bilang tentang kuantitinya. Ukurannya segini ke segini nih, sambil membentangkan tangan. Mana ngarti saya, dia ga bilang size pake ukuran cm atau mm.
Akhirnya dipaksa deh, dan dia bilang sekitar 90cm ke 50cm tingginya 15cm. Huge custom paper bag.

Terus ditanya bahannya pengen pake apaan, dia bilang yang kayak kalender kertasnya tapi yang agak tebelan. Oh art cartoon.

Dan setelah nanya lain-lainnya termasuk waktu produksi udah dinego dia pengen beres 7 hari, saya udah bilang ok. Harga udah ok, dia bilang udah pernah bikin juga, saya kira dia ngerti kalo bikin di percetakan itu biasanya ribuan, ternyata kaga. Dia bilang cuma bikin 50 biji. Hell.

Langsung saya tolak, suruh dia beli ke grosiran tuh deket alun-alun. Eh, malah nyolot, katanya udah kesana tapi ga ada yang sizenya segitu. Malah pake maki-maki segala, heran deh.

Dia malah bilang, dikota nya di selatan jawa barat itu bisa bikin 50 biji, terus saya bilang, ya udah pesen aja disana di kita ngga bisa bikin cuma 50 biji.

Akhirnya dia pergi sambil komat kamit ga jelas.

Nah, apakah pernah menemui calon pelanggan seperti ini juga, yang bilang di “percetakan sana” bisa bikin produk A walau cuma sedikit dan harganya super murah tapi disuruh bikin kesana ga mau karena si “percetakan sana” itu hanya khayalannya?

Advertisements

Bisnis jual beli mesin cetak offset memang masih menggiurkan, dapat dibuktikan dengan banyaknya peminat yang menginginkan untuk memiliki mesin cetak offset tersebut.

Terutama mesin offset bekas. Hal ini dikarenakan harga mesin cetak offset pabrikan keluaran terbaru harganya sangat tinggi, sehingga hanya sedikit percetakan yang mampu membeli mesin offset tersebut.

Berbeda dengan mesin offset bekas, para pengusaha masih bisa mengusahakan untuk membeli mesin tersebut sesuai dengan kebutuhan cetaknya.

Untuk membeli mesin offset bekas anda bisa mengunjungi supplier mesin cetak ataupun langsung datang ke percetakan, tetapi jika memilih datang ke percetakan biasanya anda akan bertemu dengan calo mesin tersebut.

Mesin offset bekas memang tidak semulus yang baru, tapi dengan kejelian dan kemampuan menghitung ongkos servicenya, mesin tersebut bisa diservice dan dijual kembali dengan harga yang lebih tinggi.

Melihat kembali ke mesin percetakan, berikut ini beberapa merek yang termasuk mesin cetak offset :
Heidelberg GTO, SpeedMaster, MO, SORS, SORM, SORD
Sakurai Oliver
Gestetner
Ryobi
Toko
Hamada

Percetakan buku adalah percetakan yang mengambil spesialisasi produk buku, mereka termasuk penerbit juga. Tetapi sebagian penerbit tidak memiliki percetakan sendiri lho.

Percetakan buku saat ini dengan berkembangnya teknologi, mereka juga memiliki digital offset printing dan siap melayani print on demand pada sebagian percetakan buku, sebagian lainnya masih konvensional berfokus pada banyaknya jumlah buku.

Mesin yang digunakan di percetakan buku sama seperti dipercetakan offset, tapi mereka memiliki penambahan mesin maupun spesifikasi yang sedikit berbeda dengan percetakan biasa.

Mereka memiliki mesin finishing, seperti mesin lipat, mesin jahit kawat, mesin hot glue binding, mesin spiral dan mesin potong tiga pisau yang membuat buku menjadi presisi.

Percetakan buku memiliki omset sampai milyaran pertahunnya, jika dilihat dari tender buku yang diadakan pemerintahan saja, sebuah percetakan buku yang cukup terkenal mampu mengerjakan sampai 24 order buku per tahunnya.

Makin banyaknya pelaku bisnis di bidang percetakan saat ini membawa sisi baik bagi konsumen. Salah satu sisi baiknya yakni adanya spesialisasi. Jika dulu apapun yang akan dicetak langsung datang ke percetakan, saat ini ada beberapa percetakan yang mengkhususkan diri pada satu atau beberapa produk saja.

Percetakan undangan saat ini sedang menjamur, semakin banyaknya pebisnis yang menggeluti bidang ini, karena banyaknya juga permintaan dari konsumennya.
Undangan pernikahan menjadi komoditas utama, tentu saja akan selalu ada pernikahan hampir setiap minggunya.

Design yang unik dan terlihat lebih elegan ataupun fresh, model undangan yang tidak pasaran menjadikan percetakan undangan cepat mendapatkan konsumen dan menjadi terkenal.

Terutama setelah teknologi informasi semakin pesat, dengan meningkatnya jumlah pengguna internet, percetakan undangan sampai kebanjiran order. Beberapa percetakan undangan sebenarnya sama sekali tidak mempunya mesin cetak, mereka hanya mampu, mengetahui dan memiliki ilmu serta wawasan yang memang dibutuhkan dan diinginkan oleh klien mereka, toh konsumen juga yang senang karena undangan pernikahan mereka tepat waktu dan berkualitas baik.

Profit yang didapatkan dari percetakan undangan ini lumayan besar. Salah satu percetakan undangan yang saat ini sedang terkenal dan biasa maklun cetak ke percetakan kita bisa menggaji 10 karyawannya. Dengan pangsa pasar sampai ke negara tetangga.

Bisnis percetakan memang masih menggiurkan, terutama jika mendapatkan order rutin dari perusahaan swasta maupun instansi pemerintahan.

Namun dengan semakin banyaknya pemain dibidang ini, bisnis percetakan mengalami penurunan omset dan profit. Ditambah dengan naiknya biaya yang harus dikeluarkan.

Bisnis percetakan sebenarnya sangat mudah, ya seperti bisnis lainnya anda pun bisa menggelutinya. Resiko tinggi, Profit tinggi. Tapi banyak juga yang menjalankan bisnis ini dengan resiko tinggi profit rendah. Semua itu tergantung kebutuhan.

Di percetakan kecil, banyak terjadi persaingan tidak sehat. Bukan hanya dilakukan oleh para pemilik percetakan, namun dari konsumennya pun begitu. Ada beberapa konsumen yang dengan terang terangan mengadu harga, dari percetakan A ke percetakan B dan seterusnya.
Yang berakibat banting-banting harga tidak bisa dihindari, untuk menutup kebutuhan. Dengan resiko gagal cetak yang tinggi. Untuk pekerjaan yang sulit pun, hal ini masih terjadi.

Banyak konsumen yang berpindah-pindah ke percetakan lain untuk kebutuhan cetaknya, karena harga yang lebih murah. Tapi banyak juga yang kapok dan kembali ke percetakan yang awal karena kualitas dan ketepatan waktunya.

Pemain bisnis percetakan yang nakal pun banyak bertebaran, mereka bahkan dengan terang-terangan menggunakan kata-kata untuk mengelabui konsumen. Misalnya saja, sudah lumrahnya satu box kartu nama itu berisi seratus lembar kartu nama, namun demi harga yang sangat murah si pemain nakal tersebut menuliskan satu box Rp. 10.000,- tanpa menyebut isinya. Dan benar saja, per box kartu namanya hanya berisi 15 lembar kartu nama.

Sebenarnya hal ini kembali ke konsumen selaku pengguna barang dan jasa dari pelaku bisnis percetakan, harga tidak berbohong yang berbohong itu orangnya, betulkan?

Alat berat yang selalu ada di percetakan, yakni mesin percetakan. Mesin percetakan merupakan modal utama untuk mendirikan bisnis percetakan.

Beberapa mesin menjadi merek favorite bagi pelaku bisnis percetakan, yakni heidelberg, sakurai, ryobi toko, hamada dll.

Mesin percetakan yang beredar dipasar saat ini didominasi dari merek tersebut dan rata-rata merupakan mesin cetak bekas dari tahun 80-an dan 90-an serta beberapa yang memiliki mesin cetak tahun 2000 ke atas.
Hal ini karena mahalnya mesin percetakan, sehingga banyak yang lebih tertarik dengan barang yang sedikit tua tapi masih memiliki fungsi yang maksimal. Bayangkan saja untuk sebuah mesin cetak offset sakurai oliver 52 keluaran tahun 1989 satu warna masih dibanderol sekitar 170jt per unit.

Mesin baru yang dikeluarkan tahun 2000 ke atas harganya masih milyaran, sehingga sulit mencapai balik modal dengan cepat khususnya untuk percetakan kecil, jika percetakan dengan skala besar mereka memliliki mesin cetak keluaran terbaru yang canggih.

Untuk mendapatkan mesin cetak, tidaklah sulit namun perlu diperhatikan dan bawalah orang yang benar-benar mengerti tentang mesin cetak tersebut.