Printing Diary

Author Archive

Umumnya percetakan baik itu skala besar ataupun kecil pasti pernah merasakan dibohongi klien. Sedikit curhat sesuai dengan judulnya Wanprestasi Klien, Haruskah Ditagih?

Banyak klien yang berjanji muluk pada saat negosiasi harga dengan pihak percetakan, supaya dikasih harga super murah, pelayanan full dan jadi prioritas. Tapi klien yang mau diajak ke notaris untuk kontrak perjanjian sangat jarang atau bahkan tidak ada.
Hal yang disebut diatas tidak berlaku pada klien besar seperti pemerintahan ataupun perusahaan besar. Setidaknya hal tersebut tidak pernah terjadi pada saya, entahlah jika hal itu terjadi pada anda.

Biasanya hal itu dilakukan oleh perusahaan mikro, atau pengusaha yang baru menjalankan usahanya. Pernah ada yang datang ke tempat saya, dia akan membuat dus kemasan untuk produk kosmetiknya.
Saat datang dia memesan kepada saya sebanyak 30rb buah dus kemasan untuk type A dan 20rb buah dus kemasan untuk type B.

Big fish nih, pikir saya saat itu. Setelah nego agak alot sampe 2 hari itu, akhirnya harga ditentukan, dan pembayaran 100% pada saat barang diterima.
Dengan syarat tambahan, pengambilan dilakukan sebanyak 3 kali selama 2 bulan. Diajak kontrak notaris dia tidak mau, dan akhirnya kontrak diatas materai dan menunjuk karyawan lain sebagai saksi dari pihak percetakan dan partnernya dia sebagai saksi dari klien.

Produksi semuanya selesai dalam waktu 6 hari kerja, dan keganjilan pertama dimulai pada saat saya telpon dia, untuk proses pengiriman barang yang tentu saja saat itu juga dia harus menyiapkan uang pembayaran 1/3 dari nilai kontraknya. Dan dia mengundurnya selama 3 hari. Baru barang saya kirim setelah dia transfer uangnya.

Setelah sebulan lebih beberapa hari dari pengiriman pertama, saya berkunjung ke tempat produksi dia, dan ternyata dia malah curhat kalo barangnya kurang laku karena ga ada no pom, mfg date, exp date dan barcodenya. Hampir seminggu sekali setelah itu saya berkunjung ke tempatnya.
Oh ya, design udah acc sama dia tanpa beberapa hal yang disebutin itu. Malah memang pengennya dia seperti itu.
Dan saya hanya memproduksi sebanyak 10rb untuk type A dan 7200 untuk type B.

Sekarang, sudah bulan ke 5 dari dimulainya kontrak tersebut dan klien belum pernah memproduksi lagi dus kemasan kosmetik tersebut. Yang berarti Wanprestasi oleh klien, dan haruskah saya tagih sisanya?

Advertisements

Pagi itu saya dapat email dari orang yang baru pertama kali menghubungi saya dan mengetahuinya lewat website percetakan. Dan isi emailnya cukup fantastis, dengan maksud menanyakan harga cetak untuk buku tahunan sekolah salah satu SMA di Batam. Dengan materi yang sudah dipersiapkan, dan spesifikasinya lengkap seperti profesional yang sudah sering bulak-balik percetakan, tapi yang bikin saya kaget adalah pada bagian akhir dari email tersebut.
Dia menuliskan, tawaran paling murah yang sudah dia terima adalah Rp. 42.500 dari xxx-printing agency.

Dan seperti layaknya manusia lainnya, jika diberi umpan seperti itu, otomatis akan banting harga jauh dibawah agency tersebut, dan saya kirim ke dia.

Lama ga dibalas, saya pikir : Oh, percetakan lain juga sama berarti, pada banting harga, dan mungkin aja ada yang harganya dibawah yang saya kasih.

Beberapa hari kemudian, datanglah mereka (2 orang) terbang dari batam ke bandung. Dengan membawa file dan mereka minta harga lebih rendah lagi dan penambahan 10 halaman serta cover diubah menjadi hardcover. Entah kesurupan atau apa, saya dengan mudahnya menurunkan kembali harga. Dan dia janji, besok akan dia kasih filenya ke saya dan cetak dimulai. Dengan sebelumnya rewel meminta sample dulu, dan jaminan hasil cetak.

Sebelum pergi, mereka ngomong bakalan keliling dulu daerah percetakan di bandung.

Esoknya, orang tersebut tidak datang. Dan memang sudah bisa dipastikan dia datang ke tempat rekan percetakan saya juga dan deal dengan mereka, dengan harga yang lebih rendah dari saya.

Proses cetak dilakukan disana, dan ternyata ada sedikit kesalahan pada warna. Yang akhirnya cetakan tersebut gagal. Tanpa toleransi. Dan rekan percetakan tersebut harus menggantinya, sehingga rugi sekitar 10jt.

Dipikir, dari kejadian yang dialami itu. Mulai saat itu juga, dibicarakan sama pemilik percetakan dan marketing lainnya, perubahan cara negosiasi harga cetak. Dengan hasil take it or leave it, harganya segitu kalo ga mau ya udah. Jadi percetakan ga akan rugi, dan diharapkan konsumen juga mengerti jika kualitas selalu berbanding lurus dengan harga.

Apakah anda, rekan percetakan juga berkeinginan sama, mengambil margin keuntungan yang sesuai dengan resikonya?
Atau masih haus order cetak, sehingga masih suka banting harga?

Cetak separasi idealnya dengan menggunakan empat plat yakni CMYK (Cyan, Magenta, Yellow, Black/Key) tapi saat ini, dipercetakan tempat saya bekerja sedang marak cetak 3 plat dengan menghilangkan bagian Black-nya.

Hasil cetak CMYK tentu saja sudah terukur dan sekitar 90% sama dengan tampilan pada monitor ataupun proof cetak, tapi jika dengan tiga plat tanpa black rasanya warna kurang menonjol.

Tapi hal itu hanya berlaku pada cetakan dengan teks ataupun hasil cetak yang agak hitam, gelap ataupun kelam. Entahlah apa itu disebutnya, yang jelas hasil cetak dengan tiga plat ada yang berhasil ada juga yang gagal total sehingga harus cetak ulang.

Di percetakan tempat saya bekerja, merupakan percetakan kecil yang saat ini masih menerima maklun cetak dari agen/biro/calo percetakan, dan mereka-lah yang melakukan praktek cetak 3 plat tersebut. Mungkin dengan margin keuntungan yang semakin kecil karena sadar atau tidak pelaku bisnis percetakan saling makan (banting harga) pada setiap kesempatan.

Ok lah, katakan berhasil, dengan hasil cetak yang layak. Si pe-maklun mendapatkan untung lebih dengan mengurangi ongkos cetak dan biaya plat yang sekitar 60rb – 200rb. Tapi jika gagal, hilang semua. Rugi berjuta-juta karena harus membeli lagi kertas yang harganya selangit.

Idealnya, cetak CMY bisa dilakukan jika image yang akan dicetak 100% vector tanpa bitmap, dengan plat black raster tipis, sehingga raster tersebut bisa dipindahkan ke bagian CMY dengan komposisi raster yang sesuai.
Jika image tersebut terdiri dari beberapa bitmap, sudah dipastikan cetak CMY akan gagal, karena warna yang kurang sreg!

Tapi, sampai saat ini kita belum mencoba sendiri ke order yang masuk (bukan maklun) karena menjaga kualitas, anda sendiri pasti tau, betapa susahnya sekarang mendapatkan order cetakan, dan saya belum mau mengambil resiko kehilangan pelanggan hanya karena penghematan beberapa puluh ribu rupiah.

Domisili percetakan dengan skala kecil sangat mempengaruhi perkembangan dari percetakan itu sendiri. Biasanya percetakan kecil ini hanya mencari klien yang memiliki domisili yang sama dengan domisili perusahaan mereka.

Hal ini dikarenakan ongkos kirim yang sangat besar. Misalnya saja ada klien yang berada di aceh, dan percetakannya sendiri berdomisili di jakarta. Si klien mau mencetak brosur ukuran A4 sebanyak 1 Rim 4/4 Fullcolor dengan berat setelah cetak kurang lebih 8kg.
Dengan berat 8kg sangat tidak mungkin untuk membebankan cost pengiriman ini kepada klien. Lagi pula mana mau si klien dibebani ongkos kirim yang tinggi.

Hal ini membuat percetakan sulit berkembang, dengan pertumbuhan pasar yang minim tapi jumlah pesaing yang semakin besar, membuat persaingan semakin tidak sehat.

Lain lagi jika percetakan tersebut menerima order yang besar di klien, mereka bisa menyewa truk ataupun mengirim sendiri dengan armada mereka, dengan harga yang cukup murah untuk order dengan berat beberapa ton.

Dunia percetakan memang rumit, dengan semakin berkembangnya teknologi dan semakin sempitnya pengetahuan client menjadikan sebuah proyek cetak sebuah peristiwa paling mengesalkan bagi pelaku bisnis ini, terutama bagi mereka yang berhadapan langsung dengan si client.

Berbagai hal tidak menyenangkan bisa terjadi disini. Sample paling umum pada percetakan kecil yang sering mengerjakan order undangan adalah tentang edit photo. Terkadang client ingin photo mereka tercetak dengan kualitas superb dengan ukuran yang cukup besar, tapi mereka memberikan file image tersebut yang mereka buat sendiri dengan menggunakan kamera handphone 1,3 MP.
Yang paling mengharukan, saat si client bilang ke operator setting, “Mas, itu muka pengantinnya bisa diedit supaya bisa saling berhadapan-kan?” Padahal di photo pre-wed yang mereka kasih sang pengantin sedang menghadap ke kamera.

Pada brosur produk hal ini juga sudah biasa terjadi, saya sendiri pernah mengalaminya. Saya mendapatkan proyek brosur sebanyak 34 jenis, untuk sebuah merk furniture. Mereka hanya memberi saya photo produknya saja, dan saya diminta untuk mencari background suasana indoor yang elegant for free dan menempatkan satu furniture pada satu background tersebut.

Masih banyak kasus yang terjadi tentang sempitnya pengetahuan client tentang cetak, yang terkadang malah membuat kita tertawa.

Jadi, pernahkah anda berhadapan langsung dengan mereka?

Tags:

The 6th Indonesian International Printing Exhibition
Indoprint mengadakan pameran lagi di Jakarta, waktunya pada tanggal 30 Maret – 2 April 2011 ini akan dibuka pada pukul 10.00 am sampai 7.00 pm. Gratis tapi harus mendaftarkan diri terlebih dahulu.

Pendaftarannya sendiri bisa dilakukan secara online maupun offline di counter yang disediakan di pintu masuk pada saat berlangsungnya acara.

Jadi, anda bisa datang kesana, untuk mengenal lebih tentang percetakan, bertemu dengan para pakar dan melihat inovasi terbaru dibidang percetakan.

Sablon konvensional biasanya digunakan untuk mencetak secara langsung ke atas bahan yang akan digunakan. Bahan tersebut bisa kertas, kain, plastik, ataupun keramik. Baik yang berbidang datar maupun memiliki bentuk seperti tabung.

Untuk bisa mencetak dengan sablon, skill operator sangat berpengaruh. Biasanya operator sablon sangat mahir menggunakan peralatan sablonnya dan menguasai teknik campur warna untuk mengejar warna yang diinginkan oleh klien.

Peralatan sablon diantaranya :
Film Sablon, Screen, Rakel, Tinta Sablon, Cairan Pencampur, Meja Sablon, Hair Dryer, Lampu Neon, Tempat Jemur hasil cetak, dan beberapa peralatan pendukung.

Sablon ini bisa diaplikasikan untuk produksi cetak pada: kaos, kemeja, pulpen, undangan, kartu nama dan lainnya.

Teknik cetak sablon juga bisa digunakan untuk mencetak relief printing dan mencetak tinta invisible ink (untuk kualitas yang lebih baik) pada cetak sekuriti dokumen.