Printing Diary

Posts Tagged ‘Klien

Well, sore kemarin saya kedatangan seseorang yang sedikit bingung juga keliatannya. Dari raut wajahnya dan cara ngomongnya juga ragu. Jadi saya ajak ngobrol, dan akhirnya dia ngomong kalo dia butuh paper bag, tepatnya sih custom paper bag ya, soalnya dia pengen pake logo dan photo dari produk beserta toko yang dia miliki.

Singkatnya sih, dia nanya dulu tanpa bilang tentang kuantitinya. Ukurannya segini ke segini nih, sambil membentangkan tangan. Mana ngarti saya, dia ga bilang size pake ukuran cm atau mm.
Akhirnya dipaksa deh, dan dia bilang sekitar 90cm ke 50cm tingginya 15cm. Huge custom paper bag.

Terus ditanya bahannya pengen pake apaan, dia bilang yang kayak kalender kertasnya tapi yang agak tebelan. Oh art cartoon.

Dan setelah nanya lain-lainnya termasuk waktu produksi udah dinego dia pengen beres 7 hari, saya udah bilang ok. Harga udah ok, dia bilang udah pernah bikin juga, saya kira dia ngerti kalo bikin di percetakan itu biasanya ribuan, ternyata kaga. Dia bilang cuma bikin 50 biji. Hell.

Langsung saya tolak, suruh dia beli ke grosiran tuh deket alun-alun. Eh, malah nyolot, katanya udah kesana tapi ga ada yang sizenya segitu. Malah pake maki-maki segala, heran deh.

Dia malah bilang, dikota nya di selatan jawa barat itu bisa bikin 50 biji, terus saya bilang, ya udah pesen aja disana di kita ngga bisa bikin cuma 50 biji.

Akhirnya dia pergi sambil komat kamit ga jelas.

Nah, apakah pernah menemui calon pelanggan seperti ini juga, yang bilang di “percetakan sana” bisa bikin produk A walau cuma sedikit dan harganya super murah tapi disuruh bikin kesana ga mau karena si “percetakan sana” itu hanya khayalannya?

Advertisements

Bisnis percetakan memang masih menggiurkan, terutama jika mendapatkan order rutin dari perusahaan swasta maupun instansi pemerintahan.

Namun dengan semakin banyaknya pemain dibidang ini, bisnis percetakan mengalami penurunan omset dan profit. Ditambah dengan naiknya biaya yang harus dikeluarkan.

Bisnis percetakan sebenarnya sangat mudah, ya seperti bisnis lainnya anda pun bisa menggelutinya. Resiko tinggi, Profit tinggi. Tapi banyak juga yang menjalankan bisnis ini dengan resiko tinggi profit rendah. Semua itu tergantung kebutuhan.

Di percetakan kecil, banyak terjadi persaingan tidak sehat. Bukan hanya dilakukan oleh para pemilik percetakan, namun dari konsumennya pun begitu. Ada beberapa konsumen yang dengan terang terangan mengadu harga, dari percetakan A ke percetakan B dan seterusnya.
Yang berakibat banting-banting harga tidak bisa dihindari, untuk menutup kebutuhan. Dengan resiko gagal cetak yang tinggi. Untuk pekerjaan yang sulit pun, hal ini masih terjadi.

Banyak konsumen yang berpindah-pindah ke percetakan lain untuk kebutuhan cetaknya, karena harga yang lebih murah. Tapi banyak juga yang kapok dan kembali ke percetakan yang awal karena kualitas dan ketepatan waktunya.

Pemain bisnis percetakan yang nakal pun banyak bertebaran, mereka bahkan dengan terang-terangan menggunakan kata-kata untuk mengelabui konsumen. Misalnya saja, sudah lumrahnya satu box kartu nama itu berisi seratus lembar kartu nama, namun demi harga yang sangat murah si pemain nakal tersebut menuliskan satu box Rp. 10.000,- tanpa menyebut isinya. Dan benar saja, per box kartu namanya hanya berisi 15 lembar kartu nama.

Sebenarnya hal ini kembali ke konsumen selaku pengguna barang dan jasa dari pelaku bisnis percetakan, harga tidak berbohong yang berbohong itu orangnya, betulkan?

Umumnya percetakan baik itu skala besar ataupun kecil pasti pernah merasakan dibohongi klien. Sedikit curhat sesuai dengan judulnya Wanprestasi Klien, Haruskah Ditagih?

Banyak klien yang berjanji muluk pada saat negosiasi harga dengan pihak percetakan, supaya dikasih harga super murah, pelayanan full dan jadi prioritas. Tapi klien yang mau diajak ke notaris untuk kontrak perjanjian sangat jarang atau bahkan tidak ada.
Hal yang disebut diatas tidak berlaku pada klien besar seperti pemerintahan ataupun perusahaan besar. Setidaknya hal tersebut tidak pernah terjadi pada saya, entahlah jika hal itu terjadi pada anda.

Biasanya hal itu dilakukan oleh perusahaan mikro, atau pengusaha yang baru menjalankan usahanya. Pernah ada yang datang ke tempat saya, dia akan membuat dus kemasan untuk produk kosmetiknya.
Saat datang dia memesan kepada saya sebanyak 30rb buah dus kemasan untuk type A dan 20rb buah dus kemasan untuk type B.

Big fish nih, pikir saya saat itu. Setelah nego agak alot sampe 2 hari itu, akhirnya harga ditentukan, dan pembayaran 100% pada saat barang diterima.
Dengan syarat tambahan, pengambilan dilakukan sebanyak 3 kali selama 2 bulan. Diajak kontrak notaris dia tidak mau, dan akhirnya kontrak diatas materai dan menunjuk karyawan lain sebagai saksi dari pihak percetakan dan partnernya dia sebagai saksi dari klien.

Produksi semuanya selesai dalam waktu 6 hari kerja, dan keganjilan pertama dimulai pada saat saya telpon dia, untuk proses pengiriman barang yang tentu saja saat itu juga dia harus menyiapkan uang pembayaran 1/3 dari nilai kontraknya. Dan dia mengundurnya selama 3 hari. Baru barang saya kirim setelah dia transfer uangnya.

Setelah sebulan lebih beberapa hari dari pengiriman pertama, saya berkunjung ke tempat produksi dia, dan ternyata dia malah curhat kalo barangnya kurang laku karena ga ada no pom, mfg date, exp date dan barcodenya. Hampir seminggu sekali setelah itu saya berkunjung ke tempatnya.
Oh ya, design udah acc sama dia tanpa beberapa hal yang disebutin itu. Malah memang pengennya dia seperti itu.
Dan saya hanya memproduksi sebanyak 10rb untuk type A dan 7200 untuk type B.

Sekarang, sudah bulan ke 5 dari dimulainya kontrak tersebut dan klien belum pernah memproduksi lagi dus kemasan kosmetik tersebut. Yang berarti Wanprestasi oleh klien, dan haruskah saya tagih sisanya?

Pagi itu saya dapat email dari orang yang baru pertama kali menghubungi saya dan mengetahuinya lewat website percetakan. Dan isi emailnya cukup fantastis, dengan maksud menanyakan harga cetak untuk buku tahunan sekolah salah satu SMA di Batam. Dengan materi yang sudah dipersiapkan, dan spesifikasinya lengkap seperti profesional yang sudah sering bulak-balik percetakan, tapi yang bikin saya kaget adalah pada bagian akhir dari email tersebut.
Dia menuliskan, tawaran paling murah yang sudah dia terima adalah Rp. 42.500 dari xxx-printing agency.

Dan seperti layaknya manusia lainnya, jika diberi umpan seperti itu, otomatis akan banting harga jauh dibawah agency tersebut, dan saya kirim ke dia.

Lama ga dibalas, saya pikir : Oh, percetakan lain juga sama berarti, pada banting harga, dan mungkin aja ada yang harganya dibawah yang saya kasih.

Beberapa hari kemudian, datanglah mereka (2 orang) terbang dari batam ke bandung. Dengan membawa file dan mereka minta harga lebih rendah lagi dan penambahan 10 halaman serta cover diubah menjadi hardcover. Entah kesurupan atau apa, saya dengan mudahnya menurunkan kembali harga. Dan dia janji, besok akan dia kasih filenya ke saya dan cetak dimulai. Dengan sebelumnya rewel meminta sample dulu, dan jaminan hasil cetak.

Sebelum pergi, mereka ngomong bakalan keliling dulu daerah percetakan di bandung.

Esoknya, orang tersebut tidak datang. Dan memang sudah bisa dipastikan dia datang ke tempat rekan percetakan saya juga dan deal dengan mereka, dengan harga yang lebih rendah dari saya.

Proses cetak dilakukan disana, dan ternyata ada sedikit kesalahan pada warna. Yang akhirnya cetakan tersebut gagal. Tanpa toleransi. Dan rekan percetakan tersebut harus menggantinya, sehingga rugi sekitar 10jt.

Dipikir, dari kejadian yang dialami itu. Mulai saat itu juga, dibicarakan sama pemilik percetakan dan marketing lainnya, perubahan cara negosiasi harga cetak. Dengan hasil take it or leave it, harganya segitu kalo ga mau ya udah. Jadi percetakan ga akan rugi, dan diharapkan konsumen juga mengerti jika kualitas selalu berbanding lurus dengan harga.

Apakah anda, rekan percetakan juga berkeinginan sama, mengambil margin keuntungan yang sesuai dengan resikonya?
Atau masih haus order cetak, sehingga masih suka banting harga?

Domisili percetakan dengan skala kecil sangat mempengaruhi perkembangan dari percetakan itu sendiri. Biasanya percetakan kecil ini hanya mencari klien yang memiliki domisili yang sama dengan domisili perusahaan mereka.

Hal ini dikarenakan ongkos kirim yang sangat besar. Misalnya saja ada klien yang berada di aceh, dan percetakannya sendiri berdomisili di jakarta. Si klien mau mencetak brosur ukuran A4 sebanyak 1 Rim 4/4 Fullcolor dengan berat setelah cetak kurang lebih 8kg.
Dengan berat 8kg sangat tidak mungkin untuk membebankan cost pengiriman ini kepada klien. Lagi pula mana mau si klien dibebani ongkos kirim yang tinggi.

Hal ini membuat percetakan sulit berkembang, dengan pertumbuhan pasar yang minim tapi jumlah pesaing yang semakin besar, membuat persaingan semakin tidak sehat.

Lain lagi jika percetakan tersebut menerima order yang besar di klien, mereka bisa menyewa truk ataupun mengirim sendiri dengan armada mereka, dengan harga yang cukup murah untuk order dengan berat beberapa ton.

Dunia percetakan memang rumit, dengan semakin berkembangnya teknologi dan semakin sempitnya pengetahuan client menjadikan sebuah proyek cetak sebuah peristiwa paling mengesalkan bagi pelaku bisnis ini, terutama bagi mereka yang berhadapan langsung dengan si client.

Berbagai hal tidak menyenangkan bisa terjadi disini. Sample paling umum pada percetakan kecil yang sering mengerjakan order undangan adalah tentang edit photo. Terkadang client ingin photo mereka tercetak dengan kualitas superb dengan ukuran yang cukup besar, tapi mereka memberikan file image tersebut yang mereka buat sendiri dengan menggunakan kamera handphone 1,3 MP.
Yang paling mengharukan, saat si client bilang ke operator setting, “Mas, itu muka pengantinnya bisa diedit supaya bisa saling berhadapan-kan?” Padahal di photo pre-wed yang mereka kasih sang pengantin sedang menghadap ke kamera.

Pada brosur produk hal ini juga sudah biasa terjadi, saya sendiri pernah mengalaminya. Saya mendapatkan proyek brosur sebanyak 34 jenis, untuk sebuah merk furniture. Mereka hanya memberi saya photo produknya saja, dan saya diminta untuk mencari background suasana indoor yang elegant for free dan menempatkan satu furniture pada satu background tersebut.

Masih banyak kasus yang terjadi tentang sempitnya pengetahuan client tentang cetak, yang terkadang malah membuat kita tertawa.

Jadi, pernahkah anda berhadapan langsung dengan mereka?

Tags: